BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan
teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini,
karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi
kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam
melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi, masyarakat sudah
menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan
dalam dekade terakhir ini.
Kemajuan teknologi yang mengglobal telah berpengaruh dalam
segala aspek kehidupan baik dibidang ekonomi, politik, kebudayaan seni dan
bahkan didalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan harus mau mengadakan inovasi
yang menyeluruh artinya semua perangkat dalam sistem pendidikan memiliki peran
dan menjadi faktor yang begitu berpengaruh dalam keberhasilan sistem
pendidikan. Dari para pembuat kebijakan, guru, murid, kurikulum, semuanya
memiliki peran penting. Dari semuanya itu disatukan dalam sebuah sistem yaitu
teknologi pendidikan.
Teknologi pendidikan dapat mengubah cara pembelajaran yang konvensional
menjadi nonkonvensional. Teknologi pendidikan seringkali diasumsikan dalam
persepsi yang mengarah semata-mata pada masalah elektronika atau peralatan
teknis saja, padahal teknologi pendidikan mengandung pengertian yang sangat
luas. Teknologi pendidikan berkembang searah dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teori dalam bidang pendidikan, temuan teknologi baru, serta
kondisi saat kini. Perkembangan teknologi pendidikan telah berlangsung dari
waktu yang lama, banyak pendapat dan kejadian sejarah yang mendasari awal
perkembangan teknologi pendidikan, terutama yang berkaitan dengan perkembangan
Instruksional. Teknologi pendidikan sebagai teori dan praktik secara faktual
telah menjadi bagian integral dari upaya pengembangan sumber daya manusia
khususnya sistem
pendidikan dan pelatihan.
Berbicara mengenai pesatnya perkembangan teknologi
pendidikan dewasa ini, tentu tidak luput dari sejarah perkembangan teknologi
pendidikan. Dimulai dari awal keluarnya konsep atau defenisi mengenai teknologi
pendidikan, prinsip-prinsip teknologi pendidikan, prosedur dalam teknologi pendidikan,
hingga menjadikan teknologi pendidikan sebagai salah satu aspek yang perlu
dipertimbangkan dalam dunia pendidikan.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik
untuk membahas tentang perkembangan historis, konsep, prinsip dan
prosedur teknologi
pendidikan.
B.
Perumusan
Masalah
Adapun yang menjadi
rumusan masalah dalam penulisan ini ialah sebagai berikut :
1. Bagaimana
perkembangan historis teknologi pendidikan?
2. Apa
yang menjadi konsep dari teknologi pendidikan?
3. Apa-apa
saja yang menjadi prinsip teknologi pendidikan?
4. Apa-apa
saja yang menjadi prosedur dalam teknologi pendidikan?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini ialah sebagai berikut :
1. Untuk
memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Landasan Teknologi Pendidikan.
2. Untuk
mengetahui perkembangan historis teknologi pendidikan.
3. Untuk
mengetahui konsep dari teknologi pendidikan.
4. Untuk
mengetahui prinsip dan prosedur dalam teknologi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan
Historis Teknologi Pendidikan
Teknologi
pendidikan sebagai disiplin ilmu, pada awalnya berkembang sebagai bidang kajian
di Amerika Serikat. Kalau mengacu pada konsep teknologi sebagai cara, maka awal
perkembangan teknologi pendidikan dapat dikatakan telah ada sejak awal
peradaban, dimana orang tua mendidik anaknya dengan cara
memberikan pengalaman langsung serta dengan memanfaatkan lingkungan. Saettler
berpendapat bahwa sumber tumbuhnya teknologi pendidikan dapat ditelusuri sampai
kamu Sufi, dengan cara merekan “menjajakan pengetahuannya.” Bahkan menurutnya
cara dialog seperti dilakukan oleh Socrates sampai sekarang masih digunakan
sebagai metode pemecahan masalah (problem-solving
method).
Gerakan
untuk mengembangkan teknologi pendidikan dimotori oleh James D. Finn
(1915-1969). Finn berkontribusi besar dalam perkembangan Teknologi pendidikan.
Adapun kontribusi Finn terhadap perkembangan teknologi pendidikan adalah Finn
berjasa dalam mengusulkan bidang komunikasi Audio Visual menjadi teknolgi
pembelajaran. Besarnya kontribusi Finn pada perkembangan teknologi pendidikan
menjadikan Finn dijuluki sebagai Bapak Teknologi Pendidikan.
Menurut Finn, tahun 1920-an adalah awal perkembangan
teknologi pendidikan. Istilah dan definisi formal pertama yang berhubungan
dengan teknologi pendidikan pada saat adalah “pengajaran visual”. Yang dimaksud
dengan pengajaran visual yang terdiri dari gambar, model, objek, atau alat-alat
yang dipakai untuk menyajikan pengalaman konkret melalui visualisasi kepada
siswa. Tujuan penggunaan alat bantu visual adalah untuk: 1) memperkenalkan,
menyusun, meperkaya, atau memperjelas konsep-konsep yang abstrak; 2)
mengembangkan sikap yang diinginkan; dan 3) mendorong timbulnya kegiatan siswa
lebih lanjut. Alat bantu visual umumnya diklasifikasikan mulai dari tingkat
kekonretannya sampai dengan tingkat yang makin abstrak.
Aliran pengajaran visual, di samping berusaha membuat
konkret konsep yang abstrak, juga menambahkan dua gagasan tabahan yang masih
bermanfaat hingga sekarang. Yang pertama adalah gagasan untuk
mengklasifikasikan jenis alat-alat bantu visual, dan yang kedua menekankan
pentingnya pengintegrasian bahan visual ke dalam kurikulum, dan bukannya
dipakai dipakai secara terpisah-pisah.
Dengan timbulnya rekaman suara dan film bersuara, aliran
pengajaran visual diperluas dengan menambahkan suara, sehingga berkembang
menjadi pengjaran audiovisual yang merujuk pada beberapa maca perangkat keras
yang dipakai guru untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman melalui mata dan
telinga.
Pada akhir Perang Dunia II, mulai timbul suatu
kecenderungan baru dalam bidang audiovisual ke arah dua kerangka konseptual
baru yang paralel, yaitu teori komunikasi dan konsep sistem awal. Orientasi
teknologi pendidikan pada komunikasi, mengubah kerangka teori bidang itu. Perhatian
tidak lagi dipusatkan kepada “benda-benda”, melainkan kepada seluruh proses
komunikasi informasi mulai dari sumber (baik itu guru maupun bahan) sampai ke
penerima atau sasaran (si-belajar).
Sementara transisi dari pengajaran audiovisual ke komunikasi
berlangsung, secara paralel berlangsung pula transisi lain yang terpisah namun
ada kaitannya, yaitu perkembangan ke konsep sistem awal. Konsep sistem dalam
teknologi pendidikan menganggap sistem sebagai produk yang lengkap, tersusun,
dan terintegrasi sedemikian rupa hingga memungkinkan terjadinya pembelajaran.
Usaha untuk merumuskan definisi teknologi pendidikan
secara terorganisasi dimulai pada tahun 1960. Pengembangan definisi pertama
dilakukan oleh the Technological
Development Project dari The National
Education Association dengan ketua tim Prof. Dr. Donald P.Ely.
Usaha kedua untuk mendefinisikan teknologi pendidikan
dilakukan oleh the Commission on
Instructional Technology yang dipimpin oleh Sidney Ticton pada tahun 1970.
Pada tahun 1975 AECT membentuk Komisi Definisi dan Terminologi yang dipimpin
oleh Dr. Kenneth H. Silber dengan anggota sebanyak 26 orang. Kemudian AECT
membentuk suatu Komisi Definisi dan Terminologi pada tahun 1990 yang dipimpin
oleh Barbara B.Seels, dengan 21 orang anggota. Setelah bekerja selam tiga
tahun, komisi ini merumuskan definisi dan terminologi baru yang merupakan
definisi keempat.
Perkembangan
teknologi pendidikan di Indonesia boleh dikatakan mengikuti perkembangan yang
ada di Amerika Serikat. Seperti halnya yang terjadi di AS, perkembangan
tersebut dapat dikatakan dimulai dengan digunakannya media atau alat peraga
untuk menunjang kegiatan pengajaran. Bedanya adalah kalau di Amerika dengan
demokrasi liberalnya memungkinkan tumbunya pemikiran dan tindakan oleh masyarakat,
maka di Indonesia dengan demokrasi terpimpinnya mengharuskan restu pemerintah
untuk mengembangkan pemikiran dan kegiatan.
Pada tahun 1951 diselenggrakan “school baodcasting” sebagai suatu usaha perintisan meliputi daerah
Jakarta, Bandung, Bogor, dan Cirebon. Pada tahun 1955 didirikan BKTPG (Balai
Kursus Tertulis Pendidikan Guru) di Bandung, suatu lembaga yang bertugas
menyelenggarakan kursus tertulis bagi calon guru SD guna menyongsong program
perluasan kesempatan belajar yang lebih berkualitas.
Suatu kebijakan berskala nasional sebenarnya sudah
ditetapkan dalam REPELITA I. Dalam rumusan program pembangunan pendidikan
ditetapkan untuk “...digunakan media massa: radio dan televisi untuk
peningkatan mutu sekolah dasar...” (RI, 1970: 361). Rumusan kebijakan itu
memang berorientasikan pada media, namun tindakan yang dilakukan kemudian
mengarah pada pengertian sistem karena diperlukannya mengkaji semua komponen
yang berkaitan, termasuk sumber daya manusianya. Pada tahun 1972, Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kebijakan untuk mengembangkan siaran
pendidikan secara bertahap melalui perintisan. Perintisan setelai dinilai
berhasil, dikembangkan di 11 provinsi.
Pada tahun 1974, Presiden Suharto sebenarnya telah
mencanangkan penggunaan satelit komunikasi domestik untuk penyebaran
pendidikan. Tetapi, pernyataan Kebijakan Presiden ini tidak mendapat tanggapan
konkret. Yang tumbuh dan berkembang hingga sekarang adalah pendidikan tenaga
ahli teknologi pendidikan dan pengembangan sistem serta strategi pembelajaran
yang bersifat inovatif. Pada tahun 1973 dalam rangka kerja sama INNOTECH mulai
diuji coba suatu sistem instruksional nontradisional yang dikenal sebagai SD
PAMONG.
Pendidikan keahlian teknologi pendidikan dimulai pada
tahun 1976 pada jenjang S1 dan tahun 1978 pada jenjang S2 dan S3. Mayoritas
dosen yang mengajar didatangkan dari AS melalui bantuan teknis dari USAID.
Kurikulum dan tenaga dosennya dikoordinasikan oleh Syracuse University dalam
suatu konsorsium UCIDT (University
Consotium of Instructional Development and Technology).
Perkembangan konsep teknologi pendidikan tersebut diawali
dengan adanya alat peraga yang digunakan oleh tiap-tiap guru secara individual dalam
rangka kegiatan pengajarannya. Kemudian disediakannya berbagai media pengajaran
oleh lembaga yang khusus mendapat tugas pembuatan dan penyediaan media.
Perkembangan kemudian masih terbatas dalam lingkup pendidikan sekolah, namun
teknologi pendidikan tak hanya berupa media, tapi juga berbagai strategi yang
diperlukan agar siswa belajar aktif. Namun dengan pertimbangan bahwa belajar
itu terjadi dimana saja, kapan saja, serta oleh siapa saja dan apa saja, maka
konsep pendidikan di sekolah harus diperluas, lembaga pelatihan, lembaga kerja,
lembaga ibadah, bahkan oleh pribadi. Sedang kegiatannya dapat berupa teknologi
pembelajaran atau teknologi kinerja.
Perkembangan terminologi dalam bidang teknologi
pendidikan telah menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan. Istilah
“pembelajaran” yang berfokus pada kondisi dan kepentingan pemelajar (learner centered) untuk menggantikan
istilah “pengajaran” yang teacher centered, mulai diperkenalkan sejak
tahun 1973, telah dipakai secara meluas, bahkan telah diakomodasikan dan bahkan
dikuatkan dalam perundangan (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003). Demikian pula
istilah “sumber belajar”, dan berbagai macam strategi pembelajaran.
Jelaslah, bahwa konsep teknologi pendidikan telah tumbuh
dan berkembang di Indonesia. Namun ibarat tanaman yang telah tumbuh dan
berkembang, tetapi tidak dirawat, dipupuk, dan diremajakan, maka tanaman itu
akan dapat mati, demikian pula konsep terserah mereka yang merasa dirinya
sebagai teknolog pendidikan/pembelajaran untuk mempunyai komitmen dalam
merawat, memupuk, dan meremajakan onsep dan penerapannya.
B.
Konsep
Teknologi Pendidikan
Menurut
Finn defenisi teknologi pendidikan telah ada sejak tahun 1920, pada tahun tersebut
teknologi pendidikan dipandang sebagai media. Media ini sebagai media pembelajaran
visual yang berupa film, gambar dan tampilan yang mulai banyak dikembangakan
pada tahun 1920 (dalam Miarso, 2011
hal 134). Reiser (2002:29) menginformasikan dalam bukunya “A History Of Instructional Design and
Technology” selama akhir tahun 1920 dan mulai banyak pada tahun 1930an ,
kemajuan teknologi banyak berkembang pada area seperti penyiaran radio, rekaman
suara, dan gambar gerak dipimpin oleh suara untuk meningkatkan perhatian dalam
media pembelajaran.
Usaha untuk merumuskan
definisi teknologi pendidikan secara terorganisasi dimulai pada tahun 1960. Tahun 1960, teknologi
pendidikan dipandang sebagai suatu cara untuk melihat masalah pendidikan dan
menguji kemungkinan-kemungkinan solusi dari permasalahan dalam dunia
pendidikan. Pada 1963 teknologi pendidikan didefenisikan sebagai pemanfaatan
tiap metode dan medium komunikasi secara efektif untuk membantu pengembangan
potensi belajar orang secara maksimal. (Ely
dalam Barbara,1994 hal 17).
Pada
tahun 1970 an
beberapa defenisi teknologi pendidikan mulai banyak bermunculan, ini diawali
oleh defenisi komisi teknologi pendidikan (1970) yang mendefenisikan
teknologi pendidikan dalam pengertian umum yaitu media yang lahir sebagai
akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran
disamping guru, buku teks, dan papan tulis. Bagian yang membentuk
teknologi pembelajaran adalah televisi, film, ohp, komputer, dan bagian
perangkat keras maupun lunak lainnya. Secara khusus defenisi komisi teknologi
pendidikan mendefenisikan teknologi pembelajaran merupakan usaha sistematik
dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar dan
mengajar untuk suatu tujuan khusus, serta didasarkan pada penelitian tentang
proses belajar dan komunikasi pada manusia yang menggunakan kombinasi sumber
manusia dan non manusia agar belajar dapat berlangsung efektif. (Commission on Instructional Technology, 1970 dalam
Barbara,1994 hal 18)
Defenisi
teknologi pendidikan pada tahun 1971, kembali dikeluarkan oleh Ely. Adapun
defenisi teknologi pendidikan pada tahun 1971 adalah merupakan studi sistematik
mengenai cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai (dalam
Barabara, hal 20). Pada tahun 1972, AECT mengeluarkan
defenisi teknologi pendidikan sebagai suatu bidang yang berkepentingan dengan
menfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam identifikasi,
pengembangan, pengorganisasian, dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar
serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut.
AECT
kembali mengeluarkan defenisi Teknologi Pendidikan, dan AECT mendefenisikan
teknologi pendidikan sebagai proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang,
prosedur, gagasan, sarana, dan organisasi untuk menganalisis masalah dan
merancang, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah dalam segala
aspek belajar pada manusia (AECT,1977 dalam Barbara, hal 22).
Defenisi
teknologi pendidikan pada tahun 1990an semakin ramai dibicarakan. Seatler
(1990) berpendapat teknologi sebagai upaya yang lebih terpusat pada peningkatan
keterampilan dan organisasi kerja dibandingkan mesin dan peralatan. Sementara
Molenda dan Russel (1993) mendefenisikan teknologi pembelajaran sebagai
penerapan pengetahuan ilmiah tentang proses belajar pada manusia dalam tugas
praktis belajar dan mengajar (dalam Barabara, hal 6). Barbara
(1994) mendefenisikan teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktek pada
disain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evauasi terhadap proses dan
sumber untuk belajar (Barbara, 1994 hal 1).
AECT
(2004) kembali mengeluarkan defenisi teknologi pendidikan sebagai studi dan
etika praktek untuk menfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui
penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi (briyan
permana, 24 desember 2010 http://bitungsibryan.blogspot.com/2010/12/definisi-teknologi-pendidikan-tahun.html).
Defenisi AECT 2004 dengan defenisi sebelumnya tentang teknologi
pendidikan memilikki perbedaan yang jelas. Pada defenisi sebelumnya AECT lebih
menfokuskan kajian teknologi pendidikan sebagai usaha yang memudahkan pendidik
untuk dapat memecahkan masalah-masalah dalam proses pembelajaran, serta
pendidik dapat melaksanakan proses pembelajaran sesuai bidang garapan teknologi
pendidikan yaitu dengan identifikasi, pengembangan, pengorganisasian, dan
pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta pengelolaan atas keseluruhan
proses tersebut. Dapat disimpulkan defenisi AECT ini, menfokuskan pembelajaran
pada guru (Teacher center learning).
Defenisi 2004, AECT tidak hanya menfokuskan kajian teknologi pendidikan pada
pendidik (guru saja) namun segala aspek yang terkait dalam pendidikan juga
diikut sertakan, seperti peserta didik misalnya. Dimana defenisi AECT 2004
menerangkan pembelajaran dipusatkan pada siswa (student center learning), guru
berfungsi sebagai fasilitator dan motivator dalam meningkatkan proses belajar
siswa, hal ini sesuai dengan defenisi teknologi pendidikan sebagai studi dan
etika praktek untuk menfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui
penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi.
Defenisi
Teknologi pendidikan yang terbaru dikemukakan oleh Alan Januszewski (2008),
yang mendefenisikan teknologi pendidikan sebagai “ studi dan praktek etis
menfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan,
menggunakan, dan mengelola proses teknologi yang tepat dan sumber daya (Alan
Januszewski ,2008 hal 1). Defenisi Alan ini menisyaratkan bahwa dalam dunia
pendidikan kontribusi teknologi pendidikan tidak hanya bersifat teori namun
juga di aplikasikan berupa praktek pelaksanaan dari teori-teori yang lahir
sebagai pemecah masalah dalam proses pembelajaran.
C. Prinsip-Prinsip
Teknologi Pendidikan
Terdapat tiga prinsip dasar dalam
teknologi pendidikan sebagai acuan dalam pengembangan dan pemanfaatannya,
yaitu: pendekatan sistem, berorientasi pada siswa, dan pemanfaatan sumber
belajar.
Prinsip pendekatan sistem
berarti bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran perlu didisain atau dirancang dengan menggunakan pendekatan sistem. Dalam merancang
pembelajaran diperlukan langkah-langkah prosedural meliputi: identifikasi
masalah, analisis keadaan, identifikasi tujuan, pengelolaan pembelajaran,
penetapan metode, penetapan teknologi evaluasi pembelajaran. Dalam pandangan Muhaimin
pembelajaran itu dikatakan menggunakan teknologi apabila ia
menggunakan sistem dalam menganalisis masalah belajar, merencanakan, mengelola,
melaksanakan dan menilainya.
Prinsip berorientasi pada
siswa berarti bahwa dalam pembelajaran hendaknya memusatkan perhatiannya pada
peserta didik dengan memperhatikan karakteristik, minat, dan potensi dari siswa.
Sedangkan prinsip pemanfaatan
sumber belajar berarti dalam pembelajaran siswa hendaknya dapat memanfaatkan
sumber belajar untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkannya.
Satu hal lagi bahwa teknologi
pendidikan adalah satu bidang yang menekankan pada aspek belajar siswa.
Keberhasilan pembelajaran yang dilakukan dalam satu kegiatan pendidikan adalah
bagaimana siswa dapat belajar, dengan cara mengidentifikasi, mengembangkan,
mengorganisasi, serta menggunakan segala macam sumber belajar. Dengan demikian
upaya pemecahan masalah dalam pendekatan teknologi pendidikan adalah dengan
mendayagunakan sumber belajar.
Di samping itu, prinsip
teknologi pendidikan juga berorientasi pada asas kemanfaatan, efektif dan
efisien. Melalui prinsip-prinsip ini akan lahir pola dan bentuk kerja yang
efektif dan efisien, sehingga pendekatan teknologi pendidikan menginginkan
pencapaian tujuan secara sempurna, penuh dan tuntas.
D.
Prosedur
Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan merupakan
disiplin ilmu terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan
dilapangan, dengan kata lain adalah kebutuhan belajar. Penerapan teknololgi
pendidikan dalam pembelajaran dimaksudkan agar belajar lebih efektif, efisien,
lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan lebih bermakna bagi kehidupan orang
yang belajar
Ditinjau dari pengertian teknologi secara umum dalam aplikasi pendidikan adalah
proses yang dapat meningkatkan nilai tambah produk yang digunakan dan
dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja stuktur, yang dimana
proses dan produk tersebut dikembangkan dan digunakan, dengan kata lain semua
bentuk teknologi adalah sistem yang diciptakan oleh manusia untuk maksud dan
tujuan tertentu yang pada intinya mempermudah manusia dalam meringankan
usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga dan sumber daya yang ada.
Prosedur-prosedur dalam mengaplikasikan teknologi pendidikan antara lain:
1.
Analisis Kebutuhan
Pada
tahap awal ini dilakukan identifikasi dan karakteristik awal anak yang akan di
awali berdasarkan tahap usia dan jiwa perkembangan, analis terhadap lingkungan
yang dimana kegiatan akan dilaksanakan berdasarkan setting pendidikan formal
serta mengidentifikasi SDM dan aneka sumber belajar yang tersedia.
2.
Analisis Ketrampilan
Pada
tahap ini akan di analisis jenis kemampuan atau ketrampilan apa saja yang akan
di berikan sepanjang kegiatan pembelajaran berlangsung. Hal ini berdasarkan
pada sejumlah potensi bawaan anak yang akan di kembangkan, yang berhubungan
dengan perkembangan emosional, kognitif, motorik dan spiritual.
3.
Menulis Tujuan
Menuangkan
hasil analisis pada tahap kedua kedalam rencana kegiatan agar mudah di aplikasikan..
Menuliskan tujuan didasarkan atas kompetisi yang bersifat umum sampai kepada
hal-hal yang bersifat khusus yang merupakan indikator
belajar.
4.
Desain Pembelajaran
Kegiatan
pada tahap ini berupa penentuan strategi atau pola kegiatan yang akan
dilaksanakan. Misalnya yaitu model pembelajaran sastra dengan pengolaan
kelas yang bersifat ”moving class” dan metode apa yang akan
digunakan, dll.
5.
Pengembangan Kelas
Dalam
pengembangan bahan ada yang perlu kita perhatikan yaitu minat, kebutuhan anak
dan ketersediaan media yang dibutuhkan.
6.
Pelaksanaan
Pada
tahap ini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara yang paling efektif dan efisien
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
7.
Evaluasi
Kegiatan
evaluasi harus berorientasi pada tujuan yang akan dicapai dan mengunakan alat
atau prosedur yang tepat seperti penilaian hasil belajar melalui protofolio.
Sehingga dengan ditawarkannya beberapa tahapan-tahapan dalam mengaplikasikan
teknologi pendidikan akan dapat memudahkan seseorang tenaga pendidik untuk bisa
dijadikan dasar sebagai pendorong dan dapat pula dikembangkan, sehingga lebih
sesuai dengan harapan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Teknologi
pendidikan sebagai disiplin ilmu, pada awalnmya berkembang sebagai bidang
kajian di Amerika Serikat. Gerakan untuk mengembangkan teknologi pendidikan
dimotori oleh James D. Finn (1915-1969). Finn berkontribusi besar dalam
perkembangan Teknologi pendidikan. Besarnya kontribusi Finn pada perkembangan
teknologi pendidikan menjadikan Finn dijuluki sebagai Bapak Teknologi
Pendidikan. Menurut
Finn, tahun 1920-an adalah awal perkembangan teknologi pendidikan. Istilah dan
definisi formal pertama yang berhubungan dengan teknologi pendidikan pada saat
adalah “pengajaran visual”.
2.
Perkembangan teknologi
pendidikan di Indonesia boleh dikatakan mengikuti perkembangan yang ada di
Amerika Serikat. Seperti halnya yang terjadi di AS, perkembangan tersebut dapat
dikatakan dimulai dengan digunakannya media atau alat peraga untuk menunjang
kegiatan pengajaran.
3.
Menurut
Finn defenisi teknologi pendidikan telah ada sejak tahun 1920, pada tahun
tersebut teknologi pendidikan dipandang sebagai media. Usaha untuk merumuskan
definisi teknologi pendidikan secara terorganisasi dimulai pada tahun 1960.
Hingga sekarang definisi teknologi pendidikan telah banyak berkembang.
Pengembangan definisi pertama dilakukan oleh the Technological Development Project dari The National Education
Association.
4.
Terdapat
tiga prinsip dasar dalam teknologi pendidikan sebagai acuan dalam pengembangan
dan pemanfaatannya, yaitu: pendekatan sistem, berorientasi pada siswa, dan
pemanfaatan sumber belajar.
5.
Prosedur-prosedur dalam
mengaplikasikan teknologi pendidikan antara lain, Analisis Kebutuhan ,
Analisis Ketrampilan , Menulis Tujuan, Desain Pembelajaran, Pengembangan
Kelas, Pelaksanaan, Evaluasi
B.
Saran
Dari penjabaran kesimpulan di atas, maka yang menjadi saran
penulis dalam pembuatan makalah ini adalah diharapkan agar
perkembangan teknologi pendidikan bisa diaplikasikan dalam proses pembelajaran
dengan menggunakan prinsip-prinsip serta prosedur yang terdapat dalam teknologi
pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Januszweski, Alan dan Nolenda Michael.
2008. Educational Technology: A
Definition with Commentary. Lawrence Erlbaum Associaties: New York.
Miarso, Yusufhadi. (2011). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.
Jakarta: Penerbit Kencana.
Seels, Barbara B. dan Richey Rita C.
1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya. Unit Penerbitan
Universitas Negeri Jakarta: Jakarta