Dengan memiliki sumber kekayaan alam yang banyak, serta jumlah penduduk yang relatif besar, seharusnya Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri. Indonesia seharusnya bisa mengolah sumber kekayaan alamnya tanpa bergantung dengan negara lain, karena Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia yang bisa diandalkan.
Namun kenyataannya, Indonesia yang merupakan negara agraris, masih saja mengimpor beras. Indonesia yang memiliki laut yang luas dengan ikan yang berlimpah, masih saja mengimpor hasil laut dari luar.
Ini merupakan tanggung jawab kita sebagai anak Indonesia. Tidak cukup dengan berkata Bangga menjadi Anak Indonesia. Anak Indonesia seharusnya mampu mengubah keadaan ini dengan cara berinovasi melalui berbagai karya yang mempuni.
Seperti dikutip dari perkataan Agnes Monica "Kalo kamu bangga menjadi Anak Indonesia, kamu gak perlu nulis di jidat kamu AKU CINTA INDONESIA, cukup buktikan dengan prestasi yang membuat Indonesia Bangga". Saya pun sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Inovasi Karya dari anak bangsa di berbagai bidang, sangatlah dibutuhkan. Bahkan bukan lagi menjadi sekedar kebutuhan, tetapi menjadi sebuah tuntutan di zaman era global.
Beberapa inovasi karya anak bangsa sebenarnya sudah mulai bermunculan. Dari pantauan saya, berikut ini adalah beberapa Inovasi Karya Anak Bangsa di berbagai bidang yang patut di teladani oleh anak Indonesia lain.
MX-KEY Dongle buatan Mualimin
Sebuah alat yang digunakan untuk memperbaiki kerusakan ponsel yang merupakan rancangan Mualimin, pemuda dari Indonesia yang hanya memiliki latar belakang STM Listrik. MX-Key telah menjadi andalan bagi para teknisi seluler untuk memperbaiki kerusakan ponsel, terutama pada bagian software/perangkat lunaknya. Tidak hanya di Indonesia, para teknisi seluler tingkat dunia juga menggunakan alat ini, antara lain India,Rusia, Philipina , Arab,Persia dan Iran.
Gaun Lady Gaga yang dirancang Tex Sevario
Busana Gaun Hitam yang dikenakan Lady Gaga untuk pemotretan di Majalah Fashion ternama Haarper's Bazaar Edisi Mei merupakan karya anak Indonesia. Dia adalah Tex Sevario, perancang busana muda Indonesia yang baru berkarir kurang lebih 5 tahun sebagai perancang busana profesional. Sejak gaunnya dikenakan oleh Lady Gaga, namanya mulai dilirik di dunia fashion Internasional.
Robot Pemadam Kebakaran buatan Mahasiswa ITB
Merekalah Syawaluddin Rahmatullah, Samratul Fuadi, Aslih Damaetri dan Dody Suhendra, empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang berhasil memenangkan kontes robot Internasional. Tak sia-sia, mereka berempat melakukan riset kurang lebih dua tahun untuk merancang desain robot tersebut, dan akhirnya mereka memenangkan Kontes Robot Internasional yang diadakan di Amerika beberapa waktu silam.
Ketiga karya anak Indonesia di atas bisa saja menjadi Inspirasi untuk jutaan anak Indonesia lainnya. Apapun bidang yang kita tekuni, tidak menutup kemungkinan untuk kita mencetak prestasi. Karya-karya yang inovatif ke depannya diharapkan bisa menjadikan Indonesia lebih mandiri, utamanya dalam mengelola sumber kekayaan alam yang berlimpah.
" Manchester United is my Heaven.Winning isn’t everything. There should be no conceit in victory and no despair in defeat.”
Jumat, 24 Juni 2011
Kembalikan Misi Suci Pendidikan
Oleh: Reza Maulana
Ketika kita berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa, tidak mungkin bisa dilepaskan dari aspek pendidikan. Pendidikan erat kaitannya dengan pembangunan manusia seutuhnya. Pendidikan merupakan suatu jalan untuk membentuk karakter individu dalam suatu masyarakat sehingga nantinya individu-individu tadi akan bertaransformasi menjadi manusia yang paripurna.
Pendidikan seharusnya menjadi dataran bersama yang menempatkan seluruh anggota masyarakat mewujudkan cita-cita bersama. Pendidikan menciptakan pengetahuan bersama yang menjadi dasar seluruh tindakan bernegara sehingga kesatuan bangsa dapat diwujudkan berdasar prinsip kesetaraan untuk mencapai kemajuan bersama. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya menduduki ruang utama dalam rangka pembangunan bangsa dan negara.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional telah mencanangkan misi suci pendidikan karakter bagi seluruh elemen pendidikan. Namun, di lain pihak, muncul problema yang memprihatinkan, yaitu timbulnya gejala-gejala yang malah mencederai misi suci dari pendidikan itu sendiri. Misi suci pendidikan itu adalah bagaimana mencetak alumni pendidikan yang unggul, beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter, sebagaimana tujuan pendidikan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional.
Jika melihat fenomena dalam dunia pendidikan saat ini, tentu kita harus mengembalikan misi suci pendidikan yang sedikit-banyak telah terdegradasi. Salah satu fenomenanya adalah masih mahalnya kejujuran di kalangan peserta didik. Seperti yang terjadi pada siswa kelas VI SDN II Gadel, Surabaya, Jawa Timur, yang harus menghadapi kenyataan pahit dalam penegakkan kejujuran akademis. Kejujuran dinilai sebagai barang langka. Orang yang menegakkan kejujuran di masa kini akan banyak mendapat kecaman.
Seseorang akan melakukan hal-hal yang tidak jujur karena tiga hal: keterdesakan, moralitas, dan sistem. Faktor keterdesakan dan moralitas adalah sesuatu yang tumbuh dari dalam diri seseorang. Tentu dua hal ini erat kaitannya dengan masing-masing individu. Namun, lain halnya dengan sistem. Sistem adalah faktor yang berada di luar diri seseorang, sehingga mau tidak mau, seseorang yang terjebak dalam sistem yang buruk akan ikut terbawa buruk.
Yang menjadi permasalahan kini adalah sistem dalam dunia pendidikan kita belum baik. Sehingga seluruh elemen yang terlibat di dalamnya akan mengikuti sistem yang sedang berjalan tersebut. Salah satu hal yang menjadi kontroversi dalam dunia pendidikan adalah adanya Ujian Nasional (UN). Di satu pihak, UN berfungsi sebagai media evaluasi bagi peserta didik, untuk mengukur sudah sejauh mana pemahaman dari proses pembelajaran. Di pihak lain, UN dinilai tidak adil, karena tidak mampu mengukur kemampuan siswa secara menyeluruh.
Memang, kita membutuhkan sistem evaluasi untuk mengetahui hasil dari setiap proses pembelajaran. Namun, jangan menjadikan UN sebagai alat evaluasi yang mutlak, karena hasil evaluasi yang didapat—dari UN—tidak akan mampu merepresentasikan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. UN hanyalah media evaluasi yang hanya mampu mengukur kemampuan kognitif peserta didik, tapi melupakan aspek psikomotorik dan afektif. Oleh karena itu, dari pelaksanaan UN ini selalu muncul kontroversi, salah satunya adalah masalah kecurangan UN.
Inilah alasan mengapa pendidikan di Indonesia belum mampu menghasilkan sumber daya manusia yang seimbang antara ilmu, karakter, dan moralitasnya. Jika kita melihat kembali pada misi suci pendidikan, pendidikan pada hakikatnya tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga secara seimbang harus menanamkan karakter positif terhadap sikap, perilaku, dan tindakan seseorang.
Tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan orang yang baik. Siapakah manusia yang baik itu? Yaitu manusia yang mengenal dirinya, lalu ia mengenal Tuhannya. Ia mengenal potensi yang ada pada dirinya dan mampu mengembangkannya. Pendidikan akan menghasilkan manusia paripurna yang dapat memaknai hakikat dirinya sebagai hamba Tuhan dan makhluk sosial. Hal ini dimaksudkan agar manusia yang berpendidikan itu cerdas otaknya sekaligus waras perilakunya.
Meluruskan Makna Kemandirian
Meluruskan Makna Kemandirian
Kemandirian suatu bangsa dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengelola masalah-masalah internal tanpa campur tangan bangsa atau lembaga asing dan mampu berperan aktif dalam kancah pergaulan antarbangsa, berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, kemanusiaan, dan keadilan. Oleh karena itu, kemandirian nasional memiliki dua dimensi, yaitu dimensi internal dan eksternal.
Secara internal, suatu bangsa dapat dikatakan sebagai suatu bangsa yang mandiri apabila proses penyelenggaraan bernegara diarahkan sepenuhnya bagi kepentingan bangsa itu sendiri dan dilakukan oleh seluruh komponen bangsa secara berdaulat.
Dalam konteks Indonesia, kekuatan ekonomi, politik, sumber daya alam, sosial, budaya, dan pertahanan yang menopang sendi-sendi kehidupan bernegara seyogianya diarahkan untuk memajukan manusia Indonesia yang seutuhnya dan bermartabat, sesuai dengan pencapaian yang diharapkan oleh UUD 1945.
Kemandirian bisa diartikan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mewujudkan cita-cita berbangsa dan bernegara melalui kerja keras secara mandiri dan mampu berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Secara eksternal, kemandirian bukan berarti kita tidak membutuhkan bangsa lain. Namun, kita hidup dalam suatu sistem global yang saling bergantung dan berkaitan satu sama lain.
Intinya, kekuatan internal bangsa akan sangat menentukan posisi dalam pergaulan internasional. Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang mampu menyejajarkan dirinya di hadapan bangsa-bangsa lain. Kemandirian itu sendiri sangat ditentukan oleh kemajuan peradaban, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah telah membuktikan bahwa kemandirian suatu bangsa ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Mara, 2004[2]).
Inovasi Iptek di Indonesia
Dalam konteks kekinian, kemajuan iptek lebih dominan diterapkan dalam dunia bisnis. Akibatnya, daya saing perusahaan juga sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mentransformasikan teknologi menjadi value creation yang pada gilirannya sangat menentukan perkembangan perusahaan. Penguasaan iptek berkembang menjadi faktor penentu daya saing.
Kompetisi tidak lagi dilandasi oleh kemampuan memproduksi barang dan jasa secara lebih murah. Kompetisi memiliki dimensi yang lebih luas, terutama dalam hal kualitas dan manfaat yang dirasakan penggunanya. Lebih dari itu, menurut Hermawan Kertajaya, lakunya produk di pasaran dan kesetiaan klien banyak ditentukan oleh inovasi pada faktor-faktor emosional, seperti warna, bentuk, dan pelayanan—-yang lebih mengutamakan kepuasan pembeli.
Contoh bentuk inovasi dalam pemasaran tersebut banyak kita lihat pada produk-produk teknologi informasi (TI) dan elektronika. Perkembangan produk TI dan elektronika sangat cepat dibandingkan dengan produk non-elektronik karena pada dasarnya dunia TI dan elektronika lebih cepat melakukan inovasi sehingga selalu saja ada jenis dan fitur-fitur baru yang akan memanjakan penggunanya.
Secara agregat, daya saing perusahaan akan turut menentukan daya saing ekonomi nasional, yaitu kemampuan bangsa dalam menghasilkan barang dan jasa secara kompetitif dalam era persaingan global. Hingga pada akhirnya, diharapkan langkah menuju kemandirian nasional akan segera terwujud.
Kemandirian nasional berasal dari inovasi, dan inovasi berakar pada riset. Proses riset ini dilakukan oleh para intrapreneur, yaitu mereka yang memiliki impian tentang hal-hal yang lebih baik dan lebih baru (unik) serta dapat mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. Karena, pada dasarnya inovasi berangkat dari dua landas pikir: selalu ada cara yang lebih baik dan selalu ada cara baru (unik).
Para intrapreneur tersebut harus memiliki semangat intrapreneurship yang memiliki tiga pilar, yaitu inovasi, pengambilan risiko yang terkalkulasi, dan kreativitas. Inovasi berkaitan erat dengan kemampuan untuk melihat segala sesuatu dengan cara yang baru dan kadang di luar kebiasaan (out of the box thinking). Pengambilan risiko yang terkalkulasi merupakan kemampuan untuk mengambil kesempatan yang sudah diperhitungkan dan menganggap kegagalan sebagai proses pembelajaran (Kasali, 2010[1]).
Sedangkan kreativitas adalah kemampuan untuk memperkirakan berbagai kemungkinan di masa depan dan secara proaktif mewujudkan segala impian. Keberhasilan seringkali diraih dari kemampuan utuk melakukan hal yang berbeda secara lebih cepat dan lebih baik daripada kompetitor. Disinilah makna penting sebuah inovasi.
Secara ekonomi, perkembangan dan inovasi dalam dunia iptek akan memiliki dampak sebagai berikut: (1) mendorong efisiensi; (2) meningkatkan produktivitas kerja; (3) meningkatkan kapasitas produktif; (4) terciptanya barang dan jasa yang lebih berkualitas; dan (5) terciptanya sumber-sumber pertumbuhan baru melalui inovasi.
Hal ini mengartikan bahwa perkembangan iptek tidak hanya berpengaruh secara internal di dalam satu sektor saja, tapi juga memengaruhi pengembangan sektor lainnya. Inovasi juga dapat menciptkan multiplier effect yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan semangat inovasi iptek tersebut, COMPFEST 2011 yang digagas Fakultas Ilmu Komputer UI berinisiatif mengadakan acara yang mengusung dua kata, yaitu: kemandirian dan inovasi.
COMPFEST 2011 ini akan menjadi ajang untuk menumbuhkan bibit-bibit intrapreneur baru yang mengusung semangat inovasi untuk mencapai kemandirian nasional. Salah satunya dengan penguasaan dalam bidang iptek. Adalah tepat jika COMPFEST 2011 mengusung tema inovasi, karena inovasi adalah kompetensi terpenting di abad ke-21 ini.
Menyuburkan Budaya Inovasi di Indonesia
Budaya inovasi berangkat dari budaya belajar yang tumbuh kuat dari setiap warga negara Indonesia. Dalam mewujudkan kemandirian nasional, yang diperlukan bukan hanya menghasilkan produk, melainkan senantiasa melakukan peningkatan dan berbagai terobosan (Pradiansyah, 2010[3]).
Ada lima ciri budaya berinovasi yang dapat dilakukan oleh anak-anak bangsa:
- Adanya prinsip kesetaraan, yaitu debirokratisasi untuk menumbuhkan iklim inovasi dari setiap anggota.
- Kemauan menantang paradigma, yaitu melakukan proses berpikir di luar paradigma yang berlaku.
- Semangat pembelajar, yaitu adanya rasa keingintahuan yang besar dan memberi kesempatan untuk melakukan kesalahan karena kesalahan itu sendiri merupakan proses pembelajaran.
- Bekerja sama menyinergikan gagasan, yaitu sikap terbuka untuk menerima masukan dan pemikiran orang lain agar bisa selalu melihat kebutuhan pasar.
- Menciptakan kepemimpinan, yaitu menciptakan visi yang jelas untuk mengarahkan proses inovasi agar tidak berputar-putar atau jalan di tempat.
Rizal Dwi Prayogo's Weblog
Menuju Kemandirian Nasional Melalui Inovasi Iptek
31 Mei 2011
oleh Rizal Dwi Prayogo
Oleh Rizal Dwi Prayogo
Meluruskan Makna Kemandirian
Kemandirian suatu bangsa dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengelola masalah-masalah internal tanpa campur tangan bangsa atau lembaga asing dan mampu berperan aktif dalam kancah pergaulan antarbangsa, berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, kemanusiaan, dan keadilan. Oleh karena itu, kemandirian nasional memiliki dua dimensi, yaitu dimensi internal dan eksternal.
Secara internal, suatu bangsa dapat dikatakan sebagai suatu bangsa yang mandiri apabila proses penyelenggaraan bernegara diarahkan sepenuhnya bagi kepentingan bangsa itu sendiri dan dilakukan oleh seluruh komponen bangsa secara berdaulat.
Dalam konteks Indonesia, kekuatan ekonomi, politik, sumber daya alam, sosial, budaya, dan pertahanan yang menopang sendi-sendi kehidupan bernegara seyogianya diarahkan untuk memajukan manusia Indonesia yang seutuhnya dan bermartabat, sesuai dengan pencapaian yang diharapkan oleh UUD 1945.
Kemandirian bisa diartikan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mewujudkan cita-cita berbangsa dan bernegara melalui kerja keras secara mandiri dan mampu berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Secara eksternal, kemandirian bukan berarti kita tidak membutuhkan bangsa lain. Namun, kita hidup dalam suatu sistem global yang saling bergantung dan berkaitan satu sama lain.
Intinya, kekuatan internal bangsa akan sangat menentukan posisi dalam pergaulan internasional. Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang mampu menyejajarkan dirinya di hadapan bangsa-bangsa lain. Kemandirian itu sendiri sangat ditentukan oleh kemajuan peradaban, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah telah membuktikan bahwa kemandirian suatu bangsa ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Mara, 2004[2]).
Inovasi Iptek di Indonesia
Dalam konteks kekinian, kemajuan iptek lebih dominan diterapkan dalam dunia bisnis. Akibatnya, daya saing perusahaan juga sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mentransformasikan teknologi menjadi value creation yang pada gilirannya sangat menentukan perkembangan perusahaan. Penguasaan iptek berkembang menjadi faktor penentu daya saing.
Kompetisi tidak lagi dilandasi oleh kemampuan memproduksi barang dan jasa secara lebih murah. Kompetisi memiliki dimensi yang lebih luas, terutama dalam hal kualitas dan manfaat yang dirasakan penggunanya. Lebih dari itu, menurut Hermawan Kertajaya, lakunya produk di pasaran dan kesetiaan klien banyak ditentukan oleh inovasi pada faktor-faktor emosional, seperti warna, bentuk, dan pelayanan—-yang lebih mengutamakan kepuasan pembeli.
Contoh bentuk inovasi dalam pemasaran tersebut banyak kita lihat pada produk-produk teknologi informasi (TI) dan elektronika. Perkembangan produk TI dan elektronika sangat cepat dibandingkan dengan produk non-elektronik karena pada dasarnya dunia TI dan elektronika lebih cepat melakukan inovasi sehingga selalu saja ada jenis dan fitur-fitur baru yang akan memanjakan penggunanya.
Secara agregat, daya saing perusahaan akan turut menentukan daya saing ekonomi nasional, yaitu kemampuan bangsa dalam menghasilkan barang dan jasa secara kompetitif dalam era persaingan global. Hingga pada akhirnya, diharapkan langkah menuju kemandirian nasional akan segera terwujud.
Kemandirian nasional berasal dari inovasi, dan inovasi berakar pada riset. Proses riset ini dilakukan oleh para intrapreneur, yaitu mereka yang memiliki impian tentang hal-hal yang lebih baik dan lebih baru (unik) serta dapat mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. Karena, pada dasarnya inovasi berangkat dari dua landas pikir: selalu ada cara yang lebih baik dan selalu ada cara baru (unik).
Para intrapreneur tersebut harus memiliki semangat intrapreneurship yang memiliki tiga pilar, yaitu inovasi, pengambilan risiko yang terkalkulasi, dan kreativitas. Inovasi berkaitan erat dengan kemampuan untuk melihat segala sesuatu dengan cara yang baru dan kadang di luar kebiasaan (out of the box thinking). Pengambilan risiko yang terkalkulasi merupakan kemampuan untuk mengambil kesempatan yang sudah diperhitungkan dan menganggap kegagalan sebagai proses pembelajaran (Kasali, 2010[1]).
Sedangkan kreativitas adalah kemampuan untuk memperkirakan berbagai kemungkinan di masa depan dan secara proaktif mewujudkan segala impian. Keberhasilan seringkali diraih dari kemampuan utuk melakukan hal yang berbeda secara lebih cepat dan lebih baik daripada kompetitor. Disinilah makna penting sebuah inovasi.
Secara ekonomi, perkembangan dan inovasi dalam dunia iptek akan memiliki dampak sebagai berikut: (1) mendorong efisiensi; (2) meningkatkan produktivitas kerja; (3) meningkatkan kapasitas produktif; (4) terciptanya barang dan jasa yang lebih berkualitas; dan (5) terciptanya sumber-sumber pertumbuhan baru melalui inovasi.
Hal ini mengartikan bahwa perkembangan iptek tidak hanya berpengaruh secara internal di dalam satu sektor saja, tapi juga memengaruhi pengembangan sektor lainnya. Inovasi juga dapat menciptkan multiplier effect yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan semangat inovasi iptek tersebut, COMPFEST 2011 yang digagas Fakultas Ilmu Komputer UI berinisiatif mengadakan acara yang mengusung dua kata, yaitu: kemandirian dan inovasi.
COMPFEST 2011 ini akan menjadi ajang untuk menumbuhkan bibit-bibit intrapreneur baru yang mengusung semangat inovasi untuk mencapai kemandirian nasional. Salah satunya dengan penguasaan dalam bidang iptek. Adalah tepat jika COMPFEST 2011 mengusung tema inovasi, karena inovasi adalah kompetensi terpenting di abad ke-21 ini.
Menyuburkan Budaya Inovasi di Indonesia
Budaya inovasi berangkat dari budaya belajar yang tumbuh kuat dari setiap warga negara Indonesia. Dalam mewujudkan kemandirian nasional, yang diperlukan bukan hanya menghasilkan produk, melainkan senantiasa melakukan peningkatan dan berbagai terobosan (Pradiansyah, 2010[3]).
Ada lima ciri budaya berinovasi yang dapat dilakukan oleh anak-anak bangsa:
- Adanya prinsip kesetaraan, yaitu debirokratisasi untuk menumbuhkan iklim inovasi dari setiap anggota.
- Kemauan menantang paradigma, yaitu melakukan proses berpikir di luar paradigma yang berlaku.
- Semangat pembelajar, yaitu adanya rasa keingintahuan yang besar dan memberi kesempatan untuk melakukan kesalahan karena kesalahan itu sendiri merupakan proses pembelajaran.
- Bekerja sama menyinergikan gagasan, yaitu sikap terbuka untuk menerima masukan dan pemikiran orang lain agar bisa selalu melihat kebutuhan pasar.
- Menciptakan kepemimpinan, yaitu menciptakan visi yang jelas untuk mengarahkan proses inovasi agar tidak berputar-putar atau jalan di tempat.

Demikianlah betapa pentingnya menyuburkan budaya inovasi iptek di Indonesia. Karena pada hakikatnya, kemandirian berasal dari inovasi dan tanpa inovasi jangan berharap Indonesia akan menjadi bangsa yang mandiri. Inovasi sendiri berangkat dari budaya belajar dan riset. Dengan terus mengembangkan budaya belajar dan riset, Indonesia akan bisa terus melakukan inovasi hingga pada akhirnya akan terbebas dari ketergantungan pada negara lain (mandiri).
Referensi:[1]. Kasali, Rhenald. 2010. Myelin: Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
[2]. Mara Satria Wangsa, Lalu. 2004. Merebut Hati Rakyat: Melalui Nasionalisme, Demokrasi, dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta: PT. Primamedia Pustaka.
[3]. Pradiansyah, Arvan. 2010. You Are A Leader. Bandung: Penerbit Kaifa PT. Mizan Pustaka
Minggu, 19 Juni 2011
Mengembangkan Kreativitas Siswa dalam Pembelajaran
Belajar kreatif telah menjadi bagian penting dalam wacana peningkatan mutu pembelajaran. Hingga kini kreativitas telah diterima baik sebagai kompetensi yang melekat pada proses dan hasil belajar. Inti kreativitas adalah menghasilkan sesuatu yang lebih baik atau sesuatu yang baru.
Hal tersebut sesuai dengan pendapatn Jeff DeGraff& dan Khaterine (2002) menyatakan bahwa Creativity is core of all the competencies of your organization because creativity is what makes something better or new.
Produk baru bersifat relatif. Baru bisa bermakna sebagai hasil menyempurnakan, menambahkan, mengubah, mereposisi dari sesuatu yang ada sebelumnya sehingga sesuatu berubah menjadi lebih baik atau tampil beda. Baru juga bisa berarti tidak ada sebelumnya di dalam kelas atau di sekolah sendiri, di sini. Tidak peduli bahwa sesuatu itu sebenarnya sudah pernah ada di tempat lain. Jika kebaruan itu mencakup batas beberapa sekolah atau bahkan lebih dari itu, maka nilai kreativitasnya meningkat.
Apabila guru menggunakan konsep tersebut sebagai dasar pengembangan pembelajaran, maka masalah yang dihadapinya adalah bagaimana siswa dapat berkegiatan dengan menggunakan cara yang berbeda dari sebelumnya. Memilih cara melakukan sesuatu sehingga menghasilkan model berbeda dari yang sebelumnya.
Konsekuensi dari guru memerlukan data atau fakta mengenai proses dan hasil belajar sebagai bahan perbandingan. Selanjutnya data digunakan untuk menentukan indikator pembeda.
Proses dan hasil belajar yang dijadikan bahan perbandingan pada prinsipnya dapat berasal dari produk siswa yang sama, internal sekolah, maupun dari sekolah lain, misalnya, dari sekolah yang mampu menghasilkan produk lebih unggul. Membandingkan proses belajar dan hasil belajar dengan produk internal disebut benchmarking internal, sedangkan membandingkan dengan proses dan hasil belajar dari luar sekolah disebut benchmarking eksternal.
Peta Profil Kreativitas
Jeff DeGraff dan Khaterine mengelompokkan kreativitas pada kuadran kiri dan kanan dalam diagram berikut:
Profil individu imajinif (imagine)memiliki kompetensi dalam mengembangkan kreativitas bersumber dari daya imajinasinya. Sesungguhnya setiap individu memiliki kemampuan menghayal, namun individu imajinatif mampu mewujudkan hayalannya dalam ide dan karya yang unik. Ujung dari hayalnya adalah berkarya.
Individu imajinatif mengeksplorasi ide-ide baru, menciptakan tata artistik baru, mewujudkan produk baru, membangun pelayanan baru, memecahkan masalah dengan cara-cara baru. Potensinya akan berkembang jika didukung dengan kultur lingkungan yang menghargai dengan baik percobaan, melakukan langkah-langkah spekulatif, fokus pada pengembangan ide-ide baru, bahkan melakukan hal yang tidak dapat dilakukan orang sebelumnya.
Profil individu penanam modal (invest)menunjukkan daya kompetisi yang kuat, memiliki kesungguhan dalam berjuang serta intensif dalam mewujudkan keunggulan. Tipe pribadi ini berani kalah dan siap menang dan siap menanggung resiko. Kepribadian investor mengembangkan kreasi dengan cepat sebelum kopetitor dapat melakukannya. Pribadi yang cerdas dan pekerja keras, pikirannya fokus pada kebaikan yang yang akan diraihnya. Karena itu ia memiliki motivasi yang kuat untuk mewujudkan keberhasilan. Kelebihannya ditunjukkan dengan kemampuan merespon dengan cepat tiap perubahan.
Berbagai bentuk penemuan baru dalam bidang teknologi lahir dari tipe orang yang memiliki karakter seperti ini, kemauannya kuat dan tidak pernah puas dengan hasil kerja yang diraihnya.
Profil individu pembaharu (improve) ditandai dengan karakter yang kreativitasnya yang tak pernah surut. Aktivitas meniru sesuatu yang ada, memodifikasi, dan menyempurnakannya dan merekayasa sesuatu menjadi baru atau lebih baik, hingga membuat sesuatu berbeda dari sebelumnya. Profil individu pembaharu, seperti julukannya, memiliki karakter sangat kompleks, tak pernah kehabisan ide, pejuang sejati, dan selalu berusaha keras tidak gagal.
Keunggulannya bemodalkan keunggulan berpikir yang sistematik, berhati-hati, dan selalu memperbaharui idenya dengan cepat serta dapat menapilkannya sebagai ide dan karya nyata. Orang seperti ini akan bekembang optimal jika tumbuh pada kultur yang berorientasi pada masa depan, fokus pada rencana, mengkreasi sistem dan proses, Lebih dari itu, konsisten terhadap standar dan peraturan yang dijadikan dasar pijakan.
Karakter seperti ini mendukung proses kerjanya berdisiplin tinggi, menjujung tingkat kecepatan dan ketepatan yang tinggi. Lebih dari itu, kepatuhannya pada standar terhindar dari kesalahan.
Profil pengeram (incubate) adalah orang yang mematangkan atau mengeram ide-ide inovatif dalam dirinya sebelum gagasan direalisasikan. Profil memiliki karakter bekerja dengan penuh keyakinan dan sepenuh hati. Jika ia seorang pembisnis maka keyakinan terhadap pekerjaannya lebih daripada bisnis itu sendiri. Ia menghayati kedalamannya. Ia meyakini dengan dilandasi dengan nilai-nilai hidup yang menjadi dasar hidupnya. Karakter pribadinya selalu mendapat tempat dalam kegiatan belajarnya maupun dalam pekerjaannya.
Profil penggagas memiliki komitmen yang kuat terhadap komunitasnya, fokus membangun kekuatan yang menghargai ide bersama, menjunjung kebersamaan dan efektif berkomunikasi. Kekuatannya didukung pula dengan kebiasaannya tak pernah berhenti belajar, tumbuh kuat dalam kebersamaan, kompeten dalam membangun dukungan, memahami bagaimana belajar dan membangun kekuatan, memahami baik situasi dan kondisi, dan memilih tindakan yang tepat tanpa harus menunggu keputusan yang terlalu lama.
Profil penggagas ini tumbuh dalam interaksi kelompok, menyadari pentingnya meningkatkan kekuatan individu melalui kelompok, menghargai sumber daya manusia, melakukan pelatihan, dan meningkatkan efektivitas fungsi organisasi. Dengan demikian setiap tahap kegiatannya teroganisasi dengan baik.
Dari uraian di atas, seperti dijelaskan Jeff DeGraff dan Khaterine dapat dikembangkan ihtisar ringkas profil kreativitas individu sebagai berikut:
- Imajinatif (imagine) mementingkan pencapain tujuan inovasi dan pertumbuhan. Karakter : generalis, senang bereksplorasi, menyukai perubahan, dan menyukai keragaman.
- Penanam Modal (Invest) mementingkan kecepatan dan keuntungan. Karakter : berorientasi pada kinerja, mengandalkan daya pikir, disiplin, dan menyukai tantangan.
- Pembaharu (improve) mementingkan kualitas dan optimalisasi. Karakter sistematik, menyukai teknik, praktis, dan memiliki perhatian terhadap proses.
- Penggagas (Incubate) mementingkan peran minat dan kelapangan ide-ide. Karakter: menyukai curah ide, berorientasi pada kekuatan komunikasi, bersifat komunikatif dan menyukai belajar.
Disain Kreatif dalam Perencanaan Belajar
Pembelajaran kreatif yang membuat siswa mengembangkan kreativitasnya. Itu berarti bahwa bahwa pembelajaran kreatif itu membuat siswa aktif membangkitkan kreativitasnya sendiri.
Mengembangkan kreativitas siswa dalam pembelajaran berarti mengembangkan kompetensi memenuhi standar proses atau produk belajar yang selalu terbarukan. Di sini diperlukan strategi agar siswa mampu menghasilkan gagasan yang baru, cara baru, disain baru, model baru atau sesuatu yang lebih baik daripada yang sudah ada sebelumnya.
Segala sesuatu yang baru itu muncul dengan pemicu, di antaranya, karena tumbuh dari informasi yang baru, penemuan baru, teknologi baru, strategi belajar yang baru yang lebih variatif, sistem kolaborasi dan kompetisi yang baru, eksplorasi ke wilayah sumber informasi baru, menjelajah forum komunikasi baru, mengembangkan stategi penilaian yang baru yang lebih variatif.
Yang lebih penting dari itu adalah melaksanakan perencanaan belajar dalam implementasi belajar kegiatan sebagai proses kreatif dan menetapkan target mutu produk belajar sebagai produk kreatif yang inovatif.
Indikator kreativitas dalam perencanaan belajar jika guru menetapkan target-target berikut:
- proses pembelajaran dirancang untuk membangun pengalaman belajar yang baru bagi siswa.
- proses pembelajaran dirancang agar siswa memperoleh informasi terbaru.
- proses belajar dirancang sehingga siswa dapat mengembangkan pikiran atau ide-ide baru.
- proses belajar dapat mengasilkan produk belajar yang berbeda dari produk sebelumnya.
- produk belajar diekspersikan dan dikomunikasi melalui media yang kreatif.
Memperhatikan harapan-harapan itu, maka mempersiapkan perangkat rencana pembelajaran untuk mengembangkan kreativitas siswa merupakan sebuah keniscayaan baru dalam sistem pengajaran kita.
Tips Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran
Secara generik mengembangkan kreativitas siswa dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pengkondisian atau membangun iklum yang memicu berkembangnya kemampuan berpikir dan berkarya. Landasannya adalah menguasai pengetahuan dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam bentuk keterampilan terbaik.
Kreativitas itu merupakan produk pada level berpikir tertinggi. Itu sebabnya, teori Bloom yang baru menempatkan to create atau berkreasi menjadi bagian penting penyempurnaannya sehingga ranah kognitif tidak diakhiri dengan evaluasi, melainkan kreasi.
Untuk mengembangkan siswa yang kreatif diperlukan guru-guru yang memiliki kompetensi sebagai berikut:
- berpengetahuan tentang karakater dan kebutuhan siswa kreatif.
- terampil mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
- terampil mengembangkan kemampuan siswa memecahkan masalah.
- mampu mengembangkan bahan ajar untuk sehingga menantang siswa lebih kreratif.
- mengembangkan strategi pembelajaran individual dan kolaboratif.
- memberi toleransi dan memberi kebebasan sekali pun hal itu tidak dikehendakinya jika ternyata prilaku berbeda itu menghasilkan produk belajar yang lebih kreatif.
Di samping kebutuhan kompetensi guru, pengembangan kreativitas siswa melalui pembelajaran memerlukan iklim atau kultur yang menunjang. Ada kebiasaan-kebiasaan yang baik yang guru tumbuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prilaku siswa kreatif tidak selalu seperti prilaku yang guru harapkan sehingga sering terjadi guru tidak menujang tumbunya kreativitas siswa.
Menurut hasil studi Utami Munandar (1997) ciri-ciri siswa kreatif adalah;
- terbuka terhadap pengalaman baru.
- kelenturan dalam sikap
- kebebasan dalam ungkapan diri
- menghargai fantasi
- minat dalam kegiatan kreatif.
- memiliki tingkat kepercayaan diri terhadap gagasan sendiri.
- mandiri dan menunjukkan inisiatif.
- kemandirian dalam memberi pertimbangan.
Di samping sifat tersebut dilihat dari pengalaman penulis mengajar, siswa kreatif memiliki sifat-sifat yang berani sehingga kadang-kadang berprilaku berani menentang pendapat, menunjukkan ego yang kuat, bertindak semau gue, menunjukan minat yang sangat kuat terhadap yang menjadi perhatiannya namun pada saat yang berbeda mengabaikannya, memerlukan kebanggaan atas karyanya. Sifat-sifat tersebut sering bertentangan dengan yang guru harapkan.
Guru mengharapkan siswa sopan, rajin, ulet, menyelesaikan tugas sesuai dengan yang guru targetkan, bersikap kompromis, tidak selalu bertentangan pendapat dengan guru, percaya diri, penuh energi, dan mengingat dengan baik.
Karena ciri anak berbakat dengan sifat-sifat siswa yang guru kehendaki berbeda, maka sering terjadi prakarsa kreatif siswa tidak mendapat dukungan guru.
Salah satu model pengembangan kreativitas adalah menggunakan pertanyaan untuk menantang proses berpikir level tertinggi sesuai dengan konsep mengembangkan ide-ide kreatif dan karya kreatif dan inovatif. Untuk mengembangkan kecakapan ini guru dapat menggunakan berbagai pertanyaan, seperti:
- Ada ide baru?
- Setelah memahami konsep ini apakah Anda memiliki ide baru?
- Setelah memperhatikan cara kerja untuk menyelesaikan tugas itu, adakah proses yang dapat kita sempurnakan sehingga prosesnya menjadi lebih baik?
- Memperhatikan contoh-contoh itu, apakah ada yang dapat kita sempurnakan sehingga akan menjadi lebih baik?
Pertanyaan itu akan lebih variatif manakala disesuaikan profil kreatifitas siswa.
Profil individu imajinif (imagine) dapat dikembangkan dengan menggunakan model pertanyaan berikut:
- Setelah membaca itu, adakah sesuatu yang hidup dalam hayalanmu?
- Setelah melihat percobaan yang unik itu, adakah ide baru yang hendak kamu wujudkan?
- Bisakah kalian rumuskan gagasan baru yang menurut kalian berbeda dengan yang telah kalian pelajari.
Profil individu penanam modal (invest) dapat dipicu dengan model pertanyaan berikut:
- Itulah yang dilakukan oleh temanmu dari sekolah lain. Selanjutnya, keunggulan seperti apa yang harus dapat kita wujudkan? Bagaimana prosesnya dan seperti apa hasil yang ingin kita buat?
- Bisakah kita menghasilkan yang lebih baik daripada yang dapat dilakukan oleh kelas lain?
- Apa yang dapat kita lakukan agar kita bisa selesai lebih cepat dan lebih baik, kalian punya ide?
Profil individu pembaharu (improve) dapat dipicu dengan model-model pertanyaan berikut:
- Perhatikan hasil karya itu, apa yang masih dapat kita kembangkan agar karya itu menjadi lebih baik.
- Apakah kamu punya cara untuk mengkomunikasikan karya itu supaya jauh lebih menarik perhatian orang-orang?
- Dapatkan kamu sempurnakan alat itu lebih kuat dan orang lebih mudah menggunakannya?
- Bisakah kamu menyelesaikan tantangan itu lebih cepat daripada yang dilakukan orang-orang?
- Bisakan kita jamin bahwa usaha itu tidak akan gagal, bagaimana rencananya?
Profil pengeram ide (incubate) dapat dipicu dengan model pertanyaan berikut:
- Apakah kamu yakin bahwa kegiatan itu akan lebih efektif, apa kelebihan ide yang akan kamu terapkan?
- Siapakah sebaiknnya yang akan kamu libatkan?
- Bagaimana mereka haru bekerja?
- Keunggugulan apa yang akan benar-benar kalian wujudkan?
Beberapa model pertanyaan itu dapat terus ditingkatkan kesulitannya sejalan dengan berkembangnya kebiasaan baik siswa yang selalu berusaha untuk mendapatkan proses yang lebih baik dengan hasil yang lebih baik lagi.
Referensi:
Jeff Degraff &Katherine A. Lawrence.2002. Creativity at Work: Developing the Right Practices to Make Innovation Happen, University of Michigan Business School Management Series, Jossey-Bass a Wiley Company. San
Utami Munandar.2002. Kreativitas dan Keberbakatan, PT Gramedia Utama, Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)





